SYIAR JUMAT

Bahaya Menapikan Agama dalam Kehidupan

  • Jumat, 25 Juni 2021 | 04:12 WIB
foto

Ilustrasi/dok./net.

Oleh F. Syarifuddin C.

ALLAH SWT berfrman dalam Al Quran yang artinya:

"Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaraan (Kami) kemudian mereka tetap berpaling (juga)." (Al An'am: 46)

Bagi muslim peringatan Allah seperti ini jelas akan menjauhkan dirinya dari sikap arogan, sebab nyata tiada sesuatu yang menimpa manusia kecuali terkait dengan kekuasaan Allah.

Seperti pada ayat di atas disebutkan, bagaimana kalau pendengaran dan penglihatan manusia dicabut oleh Allah siapakah yang mampu menolongnya?

Orang zalim/kafir dengan enteng menjawab, dokter dan uang. Padahal kenyataan dokter dan uang itu hanya sebagai sarana, perantara, bukan penentu secara mutlak.

Sekali lagi Allah mengingatkan orang zalim seperti itu lebih layak menerima azab karena perbuatan arogannya. Mari kita renungkan kembali ayat Al Quran ini.

"Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zalim?" (Al An'am ayat 47).

Dengan tegas Allah menyatakan bahwa azabNya hanya akan menimpa kaum zalim yang hidupnya arogan tak mau mengindahkan peringatan Allah. Azab tersebut bukan hanya kelak di akhirat, di dunia pun telah tampak.

Berbahagialah kaum muslim yang melepaskan dirinya dari kezaliman dan sikap arogansi. Bagi mereka tak perlu rasa takut dan khawatir walaupun ketika hidup di dunia menjadi bahan cibiran dan ejekan orang-orang zalim yang mengatakan agama sebagai penghambat kemajuan, politik tak semestinya bermuatan agama, urusan negara tak bisa dicampurkan dengan agama. Padahal kenyataan menunjukkan akibat menapikan agama dari akar kehidupan, kehancuranlah yang akan diketam atau dirasakan.

Allah mengingatkan: "Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (Al An'am: 48 - 49),

Barakallahu lii walakum. **

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Kebahagiaan yang Sejati
Meski Umrah Siap Digelar, Jemaah Asal Indonesia Harus Bersabar
Landasan Ibadah Kurban
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pagi
Mengenal Sahabat yang 'Ajudan' Nabi Saw