TELAAH

Hukum Akikah, Sunah atau Wajib?

foto

Ilustrasi./via ihram.co.id/ist

.CitraBandungNews.com.- Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan hukum akikah. Ada ulama yang menyebut hukumnya sunah muakadah, ada juga yang bahkan menyebutnya wajib. 

Imam Rasjidi dalam buku Panduan Kehamilan Muslimah menjabarkan, Sayyid Sabiq menyebut hukum melaksanakan akikah adalah sunah muakadah, walaupun seorang ayah sedang dalam kondisi sulit.  

Pendapat tersebut disandarkan pada hadis Nabi Muhammad saw., "Seorang anak tergadai dengan akikah yang harus disembelih pada hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur rambutnya," (HR Tirmidzi). 

Adapun ulama yang mewajibkan penyembelihan akikah antara lain Imam Laits, Hasan Basri, dan para kalangan Mazhab Zahiri. Pendapat mereka didasari pada hadis berikut, Nabi bersabda, "Setiap anak (yang lahir) itu digadaikan dengan akikahnya, disembelihkan akikah baginya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama," (HR Abu Dawud). 

Yang paling kuat dari dua pendapat tersebut adalah pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama. Bahwa ulama mayoritas saling mengatakan hukum akikah adalah sunah muakadah. 

Ulama Zahiriyah berpendapat hukum melaksanakan akikah adalah wajib bagi orang yang menanggung nafkah si anak, maksudnya orang tua bayi. Mereka mengambil dasar hukumnya dari hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi.

Sementara itu, para fukaha (ahli fikih) pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat akikah tidak wajib dan tidak pula sunah, melainkan termasuk ibadah tatawwu' (sukarela). 

Pendapat ini dilandaskan kepada hadis Nabi saw. : "Aku tidak suka sembelih-sembelihan (akikah). Akan tetapi, barangsiapa dianugerahi seorang anak, lalu dia hendak menyembelih hewan untuk anaknya itu, dia dipersilakan melakukannya," (HR al-Baihaki).

Sejumlah riwayat menyebutkan, tradisi akikah sebenarnya juga berlangsung pada masa jahiliah. Mereka melakukan hal itu untuk anaknya yang baru lahir, terutama anak laki-laki. Cara yang mereka lakukan adalah dengan menyembelih kambing, lalu darahnya diambil dilumuri ke kepala sang bayi.

"Dahulu kami di masa jahiliah apabila salah seorang di antara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi." (HR Abu Dawud dari Buraidah). (fen) **

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pagi
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pagi
Muslim Kanada Rayakan 10 Tahun Masjid di Prince George
Taliban Ganti Patung Pemimpin Syiah dengan Monumen Replika Al Quran Raksasa
Mualaf karena Terpikat Salat (3)