Skyscraper
Skyscraper

Tapi Ada Syaratnya

Kang Emil Bolehkan Salat Tarawih Berjemaah di Masjid

foto

Jemaah melaksanakan salat tarawih pertama Ramadan 1441 Hijriah di Masjid Jami Al Ma'wa, Karangtengah, Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2020)./liputan6.com/ist.

CBN.com.- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memperbolehkan salat tarawih berjemaah pada bulan Ramadan di tengah pandemi Covid-19. Namun, Emil, sapaan Ridwan Kamil, meminta Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tetap mentaati protokol kesehatan dengan tertib, termasuk soal kapasitas jemaah.

"Sesuai dengan arahan, beribadah Ramadan di masjid diizinkan. Tetapi DKM harus konsisten disiplin menjaga kapasitas hanya 50 persen. Artinya sebagian di rumah saja untuk mengurangi kepadatan," kata Emil di Mapolda Jabar, Kamis (8/4/2021), seperti dilansir Liputan6.com.

Menurut Emil, hal ini dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai tindak lanjut dari kebijakan pemerintah pusat yang sudah memberikan lampu hijau untuk ibadah rutin bulan Ramadan.

Namun, kata Emil, kegiatan buka puasa bersama di sejumlah tempat seperti kafe dan yang lainnya selama Ramadan tahun ini, masih belum diperbolehkan. Emil menilai buka bersama berpotensi menyebarkan Covid-19.

"Pada prinsipnya Covid-19 masih berhubungan dengan kerumunan, di mana ada kerumunan di situ ada potensi. Termasuk sahur dan buka puasa diupayakan untuk tetap di rumah," tutur Emil.

Penyekatan

Terkait dengan larangan mudik, Pemprov Jabar sudah melakukan beberapa simulasi titik-titik penyekatan. Selain itu, teknologi untuk melakukan pengetesan Covid-19 juga sudah disiapkan.

"Berbeda dengan tahun lalu cuma punya rapid test antibodi, sekarang kita sudah punya rapid test antigen, Genose. Sehingga dengan harga terjangkau pengetesan bisa lebih massal," kata mantan Wali Kota Bandung itu.

Pariwisata

Emil juga menjelaskan bahwa titik-titik pariwisata juga tetap dibatasi. Hal itu dilakukan agar tidak menjadi pelarian orang tidak mudik kemudian berwisata.

"Jadi kuncinya selama Covid-19 ini bukan soal boleh atau tidak boleh, tapi pada kapasitas keterbatasan," kata dia.

Sedangkan, untuk ASN yang berpergian selama mudik dengan alasan yang betul-betul tidak terhindarkan, harus ada izin tertulis dari atasan. Selain itu, kepada mereka yang telanjur datang ke kampung karena tidak terdeteksi, harus dikarantina selama 5 hari.

"Untuk itu sudah dititipkan kepada Kepala Desa, Kelurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Satpol PP untuk memastikan persiapan mengkarantina mereka-mereka yang sudah lolos dari prosedur yang telah dipersiapkan," ujar Emil. (nay) **

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pandan
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pandan
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pandan
Pembayaran Zakat Fitrah di Bandung
Jadwal Salat (Bandung) dan Renungan Pandan